Posts

Rahasia Botol Plastik

Tanda di bawah botol itu merupakan kode yg dikeluarkan The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diikuti oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization). Secara umum tanda pengenal plastik tersebut : Berada di bagian bawah botol, berbentuk segitiga, di dalam segitiga tersebut terdapat angka, nama jenis plastik di bawah segitiga. Berikut arti dari istilah-istilah tersebut : 1. PETE/PET. Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya serta tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate, atau poliester) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol jenis ini disarankan hanya untuk sekali pakai.

LOGAM MATA UANG (Cu, Ag, DAN Au) (KIMIA ANORGANIK)

Image
BAB II PEMBAHASAN LOGAM MATA UANG (Cu, Ag, DAN Au) Nama “logam pembuat uang (coinage metal)” yang diberikan untuk unsur-unsur Golongan IB bukan keanehan karena logam-logam ini telah digunakan berabad-abad yang lalu untuk membuat uang dan permata. 2.1. KECENDERUNGAN LOGAM MATA UANG Unsur golongan IB (yaitu tembaga, perak, dan emas) disebut logam koin karena dipakai sejak lama sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu lama.

LOGAM Fe (KIMIA ANORGANIK)

Image
BAB II PEMBAHASAN A.            Kecenderungan Logam Fe Besi adalah unsur dari golongan transisi. Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam transisi yang berada pada golongan VIII B dan periode 4. Besi adalah logam paling melimpah nomor dua setelah alumunium. Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai dalam keadaan unsur bebas. Besi yang merupakan unsur logam transisi, dimana sifat dari unsur-unsur transisi tidak memiliki perubahan yang signifikan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam satu periode. Sifat dari besi tidak jauh berbeda dengan sifat-sifat unsur logam transisi lainnya.

LOGAM KOBALT DAN NIKEL (KIMIA ANORGANIK)

Image
LOGAM KOBALT DAN NIKEL (KIMIA ANORGANIK) BAB II PEMBAHASAN 2.1                    Kecenderungan Logam Kobalt dan Nikel Kobalt dan nikel termasuk ke dalam unsur transisi periode 4, tepatnya termasuk unsur golongan VIIIB. Di dalam golongan ini kesamaan horizontalnya lebih besar daripada vertikalnya dan gambaran mengenai sifat unsur ini didasarkan pada golongan horizontal setiap tiga unsur, yang disebut triad. Setiap triad diberi nama sesuai dengan nama unsur yang paling dikenal. Sehingga kita mempunyai triad besi, triad paladium, dan triad platinum. [1] Oleh karena itu, dapat diketahui kobalt dan nikel cenderung memiliki sifat yang sama.

LOGAM MANGAN (KIMIA ANORGANIK)

Image
LOGAM MANGAN (KIMIA ANORGANIK) BAB II PEMBAHASAN A.     KECENDERUNGAN GOLONGAN Mangan adalah suatu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 25 dan memiliki symbol Mn. Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di Swedia. Logam mangan berwarna putih keabu-abuan. Mangan termasuk logam berat dan sangat rapuh tetapi mudah teroksidasi. Logam dan ion mangan bersifat paramagnetic. Hal ini dapat dilihat dari obital d yang terisi penuh pada konfigurasi electron. Mangan mempunyai isotop stabil yaitu 55Mn.

LOGAM VANADIUM DAN KROMIUM (KIMIA ANORGANIK)

Image
LOGAM VANADIUM DAN KROMIUM (KIMIA ANORGANIK) BAB II PEMBAHASAN A.     Kecendrungan Logam Golongan 5 dan 6 (V dan Cr) 1.       Kecendrungan Vanadium Logam ini barangkali memang sulit dijumpai secara langsung di sekeliling kita, logam ini mempunyai kenampakan bersianar cemerlang, cukup lunak sehingga mudah untuk dibentuk seperti pembuluh, mempunyai titik leleh 1915°C dan titik didih 3350°C   serta tahan terhadap korosi. Vanadium dapat bergabung dengan karbon di dalam baja, membentuk senyawa V 4 C 3 yang merupakan butiran–butiran halus terdispersi dan membuat baja menjadi lebih tahan lama dan tahan sobekan bahkan pada temperatur tinggi, sehingga lebih baik daripada baja besi. Penambahan karbon kira-kira 10% mengakibatkan kenaikan titik leleh yang sangat menyolok, menjadi kira-kiara 2700°C. Dengan sifat semacam ini produksi vanadium sebagian besar (-80%) digunakan sebagai logam aditif pada baja khususnya untuk keperluan baja ya...