Unknown

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

Hidrogen berasal dari bahasa latin Hydrogenium, adalah unsur kimia  yang pada tabel periodik dilambangkan dengan simbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar.
Dalam keadaan normal, hidrogen berada dalam bentuk gas diatomik (H2). Namun, gas hidrogen sangat langka ditemukan di bumi. Karena massanya yang ringan sehingga menyebabkan gas hidrogen lepas dari gravitasi bumi. Namun, gas hidrogen dapat diperoleh secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana atau berasal dari gasifikasi batu bara. Walaupun demikian, hidrogen masih merupakan unsur yang melimpah di permukaan bumi.
Hidrogen dapat berekasi dengan banyak unsur, contohnya NH3,HF, LiH2 dan sebagainya. Sehingga hidrogen memiliki peranan yang penting dalam pembentukan beberapa senyawa kimia. Karena peranannya tersebut, penulis mengangkat pembahasan mengenai “Hidrogen” yang bertujuan untuk menambah wawasan pembaca yang tertarik dengan Ilmu Kimia.



B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalah yang dibahas oleh penulis sebagai berikut:
1.      Bagaimana sejarah penemuan Hidrogen?
2.      Apa yang dimaksud dengan Hidrogen?
3.      Bagaimana sifat fisis dan kimia Hidrogen?
4.      Bagaimana persenyawaan yang mengandung unsur Hidrogen?
5.      Bagaimana proses pembuatan Hidrogen?
6.      Apa manfaat dari Hidrogen?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis sebagai berikut:
1.      Agar pembaca mengetahui tentang sejarah dan penjelasan singkat hidrogen
2.      Agar pembaca mengetahui tentang persenyawaan yang dibentuk oleh unsur hydrogen.
3.      Agar pembaca mengetahui metode-metode yang digunakan dalam pembuatan gas hidrogen.
4.      Agar pembaca mengetahui manfaat dai gas hidrogen.




BAB II
PEMBAHASAN
A.   Sejarah
Gas hidrogen, H2, pertama kali dihasilkan secara artifisial oleh T. Von Hohenheim (dikenal juga sebagai Paracelsus, 1493–1541) melalui pencampuran logam dengan asam kuat.  Dia tidak menyadari bahwa gas mudah terbakar yang dihasilkan oleh reaksi kimia ini adalah unsur kimia yang baru. Pada tahun, Robert Boyle menemukan kembali dan mendeskripsikan reaksi antara besi dan asam yang menghasilkan gas hidrogen. Pada tahun 1766, Henry Cavendish adalah orang yang pertama mengenali gas hidrogen sebagai zat diskret dengan mengidentifikasikan gas tersebut dari reaksi logam-asam sebagai "udara yang mudah terbakar". Pada tahun 1781 dia lebih lanjut menemukan bahwa gas ini menghasilkan air ketika dibakar. Pada tahun 1783, Antoine Lavoisier memberikan unsur ini dengan nama hidrogen (dari Bahasa Yunanihydro yang artinya air dan genes yang artinya membentuk) ketika dia dan Laplace mengulang kembali penemuan Cavendish yang mengatakan pembakaran hidrogen menghasilkan air. Hidrogen pertama kali dicairkan oleh James Dewar pada tahun 1898 dengan menggunakan penemuannya, guci hampa. Dia kemudian menghasilkan hidrogen padat setahun kemudian. Deuterium ditemukan pada tahun 1931 Desember oleh Harold Urey, dan tritium dibuat pada tahun 1934 oleh Ernest Rutherford, Mark Oliphant, and Paul Harteck. Air berat, yang mengandung deuterium menggantikan hidrogen biasa, ditemukan oleh Urey dkk. pada tahun 1932. Salah satu dari penggunaan pertama H2 adalah untuk sinar sorot. [1]
B.   Pengertian Hidrogen
Hidrogen merupakan unsur yang paling banyak di alam semesta, yaitu 93% karena bintang-bintang mengandung hidrogen sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cahaya jumlah atom hidrogen dibumi sekitar 3% atau 0,14% massa, dalam bentuk senyawa anorganik (seperti air dan asam) dan organik. Air mengandung 11% massa hidrogen karena molekulnya mengandung 2 atom hidrogen dan 1 oksigen.[2]
Dalam sistem periodik, hidrogen memiliki nomor atom satu dan terletak pada golongan 1A karena mempunyai 1 elektron. Tetapi kecendrungannya sama dengan VIIA, yaitu menerima 1 elektron, dan tidak seperti golongan 1A lainnya yang cendrung melepas 1 elektron. Selain itu, elektron hidrogen dapat ditarik oleh atom lain sehingga menjadi ion H+. Karena itu hidrogen tidak dapat dimasukkan baik dalam golongan 1A maupun dalam golongan VII A.
Hidrogen dalam keadaan bebas berupa molekul gas diatomik (H2) dengan titik didih dan titik beku yang sangat rendah karena gaya london antar molekul sangat kecil akibatnya cukup sulit hidrogen dalam bentuk gas yang mudah untuk dimanfaatkan dalam bidang industri. 
Hidrogen yang terdapat di alam ada tiga isotop, yaitu  (hidrogen)  (D= deuterium) dan  ( T= tritium) dengan perbandingan:
 H : D : T = 10.000.000 : 2.000 : 1
Air yang terbentuk dari deuterium atau D2O disebut air berat dengan perbandingan.
H2O : D2O = 5.000 : 1
Artinya, dalam 5.000 liter air tedapat sekitar 1 liter air berat. Tritium (T) bersifat radioaktif  dengan waktu paro 12,3 tahun dan dapat dibuat dengan reaksi inti.
Hidrogen yang terdapat di alam mengandung 0,0156 % deuterium sedangkan tritium (terbentuk secara terus menerus dilapisan atas atmosfer pada reaksi inti yang direduksi oleh sinar kosmik terdapat dialam hanya dalam jumlah yang sngat kecil, kira-kira sebanyak 1/1017  dan bersifat radioaktif ( , 12,4 tahun). Deuterium sebagai D2O dipisahkan dari air dengan cara destilasi bertingkat atau elektrolisis  yang  disediakan dalam jumlah ton untuk pemakaian sebagai moderator dalam reaktor nuklir. [3]
C.   Sifat Fisis dan Kimia
1.      Sifat Fisis Hidrogen[4]
Unsur                                      : Hidrogen
 Nomor atom                           : 1
Massa atom relatif                   : 1,00
Titik Leleh(oC)                        : -259,14
Titik Didih(oC)                        : -252,87
Rapatan pada 25oC (g/cm3)     : 0,07
Warna                                      : tidak berwarna
Konfigurasi Elektron              : 1s1
Energi Ionisasi (kJ//mol)         : 1312,0
Afinitas Elektron (kJ/mol)      : 72,77
Keelektronegatifan                 : 2,20
Jari-jari Ion (Ã…)                       : 1,46
Jari-jari Atom(Ã…)                     : 0,37
Massa Jenis                             : 0,0899 g/cm3
Struktur kristal                        : Heksagonal
Radius Atom                            : 2,08 A0 
Volume Atom                          : 14,10 cm3/mol
Radius kovalensi                      : 0,32 A0 
Entalpi penguapan                    : 0,4581 Kj/mol
Entalpi pembentukan                : 0,00585   Kj/mol
Potensial ionisasi                      : 13,598 V
Konduktivitas panas                 : 0.1815 Wm-1K-1
Kapasitas panas                         : 14,304 Jg-1K-1
Nama golongan                         : alkali
Wujud                                        : gas
Jenis unsur                                 : nonlogam
Asal unsur                                  : unsur alam

2.      Sifat Kimia
Sifat kimia Hidrogen bergantung pada tiga proses elektronik:[5]
a.       Kehilangan elektron valensi 1s. Hal in akan menghasilkan proton, H+. Ukurannya yang kecil, r ~ 1,5 x 10-13 cm, relatif terhadap ukuran r ~ 10-8 cm serta muatannya yang kecil yang dihasilkan oleh kemampuannya yang khas untuk mendistorsi awan elektron di sekeliling atom-atom lain. Proton tidak pernah dalam bentuk seperti itu kecuali dalam berkas ion gas. Proton ini bergabung dengan atom-atom atau molekul-molekul lain. Meskipun ion hidrogen berada dalam air, umumnya ditulis sebagai H+, tapi sesungguhnya H3O+ atau H(H2O)n+.
b.      Penambahan satu elektron. Atom H dapat memperoleh satu elektron dan membentuk ion hidrida, H- dengan struktur He 1s2. Ion ini hanya ada dalam kristal hidrida dari logam-logam elektropositif, seperti NaH, CaH2.
c.       Pembentukan sebuah pasangan elektron. Nonlogam dan juga banyak logam dapat membentuk ikatan kovalen dengan hidrogen.
D.   Senyawa Hidrogen
Senyawa hidrogen sering disebut sebagai hidrida, sebuah istilah yang tidak mengikat. Oleh kimiawan, istilah "hidrida" biasanya memiliki arti atom H yang mendapat sifat anion, ditandai dengan H. Keberadaan anion hidrida, dikemukakan oleh Gilbert N. Lewis pada tahun 1916 untuk gologngan I dan II hidrida garam, didemonstrasikan oleh Moers pada tahun 1920 dengan melakukan elektrolisis litium hidrida cair (LiH) yang menghasilkan sejumlah hidrogen pada anode. Untuk hidrida selain logam golongan I dan II, istilah ini sering kali membuat kesalahpahaman oleh karena elektronegativitas hidrogen yang rendah. Pengecualian adalah hidrida golongan II BeH2 yang polimerik. Walaupun hidrida dapat dibentuk dengan hampir semua golongan unsur, jumlah dan kombinasi dari senyawa bervariasi, sebagai contoh terdapat lebih dari 100 hidrida borana biner yang diketahui, namun cuma satu hidrida aluminium biner yang diketahui. Hidrida indium biner sampai sekarang belum diketahui, walaupun sejumlah komplek yang lebih besar eksis.[6]
Hidrida biner diklasifikasikan sesuai dengan posisi unsurnya dalam tabel periodik, dan oleh karakter ikatannya. Hidrida alkali dan alkali tanah di blok s adalah senyawa ionik yang analog dengan halida dan disebut dengan hidrida salin. Unsur blok p golongan 13-17 membentuk hidrida kovalen molekular. Belum ada senyawa hidrida gas mulia yang pernah dilaporkan.[7]

Beberapa unsur transisi blok d dan f membentuk hidrida logam yang menunjukkan sifat logam. Logam-logam transisi yang tidak membentuk hidrida biner membentuk hidrida molecularkompleks yang dikoordinasikan oleh ligan penstabil, seperti karbonil (CO), fosfin tersier (PR3), atau siklopentadienil (C5H5) (rujuk bagian 6.1).Contoh-contoh khas hidrida diberikan di bawah ini.[8]
a.      Hidrida salin
Hidrogen mempunyai 1 elekron  dan cendrung menerima 1 elektron dari atom lain. Akibatnya, hidrogen dapat bereaksi dengan logam yang reaktif, yaitu (Li,Na,K,Mg,dan Ca) membentuk senyawa hidrida ionik, contohnya:

Litium hidrida, LiH, senyawa kristalin tak bewarna (titik leleh (melting point, mp) 680oC). Li+ danH- membentuk kristal berstruktur garam dapur. Pelepasan kuantitatif gas hidrogen di anoda saat dilakukan elektrolisis garam leburnya menyarankan keberadaan H-.Air bereaksi dengan hebat dengan litium hidrida membebaskan gas hidrogen.Karena senyawa ini agak melarut dalam eter, hidrida ini digunakan sebagai pereduksi di kimia organik.

Kalsium hidrida, CaH2, adalah padatan kristalin tak bewarna (mp 816 oC), dan bereaksi denganhebat dengan air membebaskan gas hidrogen.Hidrida ini digunakan sebagai pembentuk gas hidrogen, atau bahan dehidrator untuk pelarut organik. Hidrida ini juga digunakan sebagai
reduktor. Litium tetrahidridoaluminat, LiAlH4, adalah padatan kristalin tak bewarna (terdekomposisi di atas 125oC) biasanya disebut litium aluminum hidrida.Hidrida melarut dalam eter, dan bereaksi hebat dengan air.Hidrida ini digunakan sebagai reduktor dan bahan untuk hidrogenasi dan untuk pengering pelarut organik. Natrium tetrahidroborat, NaBH4, adalah senyawa padatan kristalin bewarna putih (terdekomposisi pada 400 oC) biasanya disebut natrium borohidrida. Padatan ini larut dalam air dan terdekomposisi pada suhu tingggi dengan melepaskan gas hidrogen. Padatan ini digunakan sebagai bahan pereduksi untuk senyawa anorganik dan organik, dan untuk mempreparasi kompleks hidrida, dsb.

b.      Hidrida molekular
Semua hidrida kecuali hidrida karbon (metana) dan oksigen (air) adalah gas beracun dengankereaktifan sangat tinggi dan harus ditangani dengan sangat hati-hati.Walaupun terdapat berbagai metoda untuk menghasilkan gas-gas ini di laboratorium, kini banyak gas ini mudah didapat di silinder. Diboran, B2H6, adalah gas beracun dan tak bewarna (mp -164.9­o C dan bp -92.6o C) dengan bau iritatif yang khas. Hidrida ini merupakan bahan reduktor kuat senyawa anorganik dan organik.Bahan ini juga bermanfaat sebagai bahan hidroborasi untuk memasukkan gugus fungsi padaolefin, setelah adisi olefin dengan reaksinya dengan reagen yang cocok.

Silan, SiH4, gas yang sangat mematikan dan tak bewarna (mp -185 oC dan bp -111.9 oC) denganbau yang menyengat dan juga disebut dengan monosilan.

Amonia, NH3, adalah gas beracun dan tak bewarna (mp -77.7 oC dan bp -33.4 oC) dengan baumengiritasi yang khas. Walaupun gas ini digunakan dalam banyak kasus sebagai larutan ammonia dalam air, yakni dengan dilarutkan dalam air, amonia cair juga digunakan sebagai pelarut non-air untuk reaksi khusus. Sejak dikembangkannya proses Harber-Bosch untuk sintesis amonia ditahun 1913, amonia telah menjadi senyawa yang paling penting dalam industri kimia dan digunakan sebagai bahan baku banyak senyawa yang mengandung nitrogen. Amonia juga digunakan sebagai refrigeran (di lemari pendingin).

Fosfin, PH3, gas sangat beracun dan tak bewarna (mp -133 oC dan bp -87.7 oC) dengan bau yangbusuk, juga disebut dengan fosfor hidrida. Fosfin terbakar spontan di udara.Fosfin digunakan dalam pertumbuhan epitaksi, dalam kimia koordinasi logam transisi, dsb.

Hidrogen sulfida, H2S, gas beracun dan tak bewarna (mp -85.5 oC and bp -60.7 oC) dengan bautelur busuk.Gas ini sering ditangani dengan tidak cukup hati-hati, gas ini sangat berbahaya dan harus ditangani dalam lingkungan yang ventilasinya baik. Gas ini digunakan untuk analisis kimia dengan cara pengendapan ion logam, pembuatan senyawa yang mengandung belerang, dsb.

Hidrogen fluorida, HF, adalah gas tak bewarna, berasap, bertitik didih rendah (mp -83 oC danbp 19.5 oC), dengan bau yang mengiritasi.Gas ini biasa digunakan untuk mempreparasi senyawa anorganik dan organik yang mengandung fluor.Karena permitivitasnya yang tinggi, senyawa ini dapat digunakan sebagai pelarut non-air yang khusus.Larutan dalam air gas ini disebut asam fluorat dan disimpan dalam wadah polietilen karena asam ini menyerang gelas.

c.       Hidrida logam
Hidrida MHx yang menunjukkan sifat logam biasanya bertipe intertisi dan non stoikiometribiasanya hidrogen menempati sebagian lubang dalam kisi logam. Biasanya x bukan bilangan bulat dalam senyawa ini.Hidrida jenis ini yang dikenal meliputi hidrida dari Golongan 3 (Sc, Y), Golongan 4 (Ti, Zr, Hf), Golongan 5 (V, Nb, Ta), Cr, Ni, Pd, dan Cu, tetapi hidrida logam lain diGolongan 6 sampai 11 tidak dikenal.Paladium Pd bereaksi dengan gas hidrogen pada suhu kamar, dan membentuk hidrida yang mempunyai komposisi PdHx (x < 1).Banyak hidrida logam yang menunjukkan sifat hantaran logam.LaNi5 adalah senyawa paduan antara lantanum dan nikel, yang dapat menampung sampai 6 atom hidrogen atoms per sel satuan dan berubah menjadi LaNi5H6.Paduan ini menjadi salah satu kandidat untuk digunakan sebagai bahan penyimpan hidrogen untuk pengembangan mobil berbahan hidrogen.

d.      Kompleks hidrida
Senyawa kompleks yang berkoordinasi dengan ligan hidrida disebut kompleks hidrida. Logamtransisi Golongan 6 sampai 10 yang tidak membentuk hidrida biner menghasilkan banyak
kompleks hidrida dengan ligan tambahan seperti karbonil dan fosfin tersier. Walaupun baru akhir
tahun 1950-an hidrida diterima sebagai ligan, ribuan senyawa kompleks kini telah dikenal. Lebih
lanjut, dengan sintesis kompleks hidrogen molekul di tahun 1980-an, kimia hidrogen mengambil
peran baru. Riset dalam katalisis hidrokarbon homogen dengan peran penting dimainkan oleh
hidrida atau hidrogen terus berkembang.

E.   Produksi Hidrogen
Hidrogen merupakan unsur yang melimpah di bumi dalam bentuk gas diatomik H2. Akan tetapi,  gas hidrogen sulit ditemukan di atmosfer bumi karena beratnya yang ringan yang menyebabkan gas hydrogen terlepas dari gravitasi bumi. Pada umumnya, hidrogen ditemukan dalam keadaan bersenyawa dengan unsur lain seperti hidrokarbon dan air.
Oleh karena itu, untuk memperoleh gas hidrogen kita harus melakukan pemisahan hidrogen dari senyawanya.  Terdapat beberapa metode dalam pembuatan gas hydrogen.  Namun, pada dasarnya prinsip dari metode tersebut sama, yaitu memisahkan hidrogen dari unsur lain dalam senyawanya.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, parameter yang dapat diterapkan dalam pemilihan metode adalah biaya, emisi yang dihasilkan, skala produksi dan bahan baku. Berikut metode-metode yang dapat diterapkan:
1.      Elektrolisis Air (H2O)
Hidrogen menyusun 11,2% dari massa air sehingga tersedia secara melimpah hampir di seluruh tempat di permukaan bumi.[9] Berdasarkan sudut pandang kemudahan memperoleh bahan baku. Metode elektrolisis merupakan metode yang ideal untuk memperoleh gas hidrogen.
Elektrolisis memanfaatkan arus listrik untuk menguraikan air (H2O) menjadi H2 (g) dan O2(g). Energi listrik yang digunakan berasal dari arus listrik yang searah (DC). 
Molekul air tereduksi pada katoda atau teroksidasi pada anoda dengan reaksi masing-masing:[10]       
Katoda:  2H2O  (l ) + 2                              2O  (aq) +H2 (g)
Anoda :  2H2O (l )                    4  (aq)  + O2  (g) + 4
Reaksi keseluruhan  : 2H2O (l )                2H2 (g) + O2 (g)

Bila 36 g air diuraikan oleh arus listrik menjadi hidrogen dan oksigen, digunakan energi listrik yang ekuivalen dengan 572 kJ. Karena persyaratan energi tinggi, pembuatan oksigen dan hidrogen oleh elektrolisis sangat mahak untuk penggunaan komersial. Namun, proses iu penting untuk memperoleh hidrogen dan oksigen yang sangat murni.[11]
2.      Steam Reforming
Steam Reforming merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk memproduksi gas hidrogen secara komersil yang berasal dari gas alam, seperti metana, etana, atau propana. Ada dua langkah penting dalam metode ini. Pertama, ialah reaksi reformasi atau pembentukan kembali (reforming reaction):[12]
CH4 (g)  + H2O (g)                      C­O (g) + 3H2 (g)                  = +206 kJ
Reaksi ini endotermik dan berlangsung bersamaan demean meningkatnya jumlah gas dari 2 mol menjadi 4 mol. Dengan demikian , reaksi dilaksanakan pada suhu tinggi (750 sampai 1000  C) dan tekanan total yang rendah untuk meningkatkan rendemen. Uap air berlebih ditambahkan untuk mendorong reaksi ke kanan, dan nikel digunakan sebagai katalis. Campuran gas yang dihasilkan, yang disebut gas sintesis (synthesis gas), digunakan langsung untuk membuat metanol (CH3OH) dan bahan kimia lain. Jika digunakan umpan selain metana, gas sintesis diperoleh dengan nisbah karbon monoksida terhadap hidrogen yang berbeda. Misalnya, jika menggunakan propane, reaksi reformasinya ialah[13]
C3H8 (g) + 3H2O (g)                    3CO (g)  +  7H2 (g)           
Langkah kedua dalam produksi hidrogen disebut reaksi geser (shift reaction). Dalam reaksi ini, uap air tambahan bereaksi dengan karbon monoksida yang diperoleh dari langkah pertama:[14]
CO (g)  + H2O (g)                   CO2 (g) + H2 (g)                      = - 41 kJ
Reaksi ini eksostermik sehingga berlangsung dengan baik pada suhu rendah. Namun, sebagaiman lazimnya proses eksostermik, suhu tidak dapat diturunkan terlalu jauh sebab reaksi akan menjadi terlalu lambat. Kompromi terbaik ialah pada suhu sekitar 350  , demean katalis besi oksida. Dua hal yang diperoleh dari reaksi geser in: (1) hidrogen tambahan selain yang didapat dari reaksi reformasi, dan (2) karbon dioksida diperoleh sebagai produk sampingan. Reaksi geser merupakan sumber komersial utama karbon dioksida, yang memiliki banyak manfaat. Karbon dioksida dibekukan dan dijual untuk refrigerasi (es kering). Dalam wujud cair senyawa ini digunakan untuk mengisi alamat pemadam api dan untuk membuat air berkarbonasi dalam minuman “bersoda”. CO2 gas digunakan dalam sintesis kimia , seperti dalam produksi asam salisilat untuk aspirin.[15]
Pada saat ini, gas alam merupakan bahan baku utama untuk membuat hidrogen dan karbon dioksida. Dengan menyusutnya cadangan gas alam, sumber lain harus dikembangkan .
3.      Gasifikasi Batu Bara
Gasifikasi batu bara merupakan metode pembuatan gas hidrogen tertua. Metode ini menggunakan bahan baku yaitu batu bara yang direaksikan dengan uap air:
C (s) + H2O (g)                       CO (g) + H2 (g)                        = +131 kJ
Melalui cara ini, batu bara pertama-tama dipanaskan pada suhu tinggi dalam sebuah reaktor untuk mengubahnya menjadi fasa gas. Selanjutnya, batu bara direaksikan dengan steam dan oksigen, yang kemudian menghasilkan gas hidrogen, karbon monoksida dan karbon dioksida.
CO (g) + H2O (g)                          CO2 (g)  +  H2 ( g)
Campuran-campuran gas yang dihasilkan ini disebut gas air (water gas) dan terbakar dengan nyala biru akibat kandungan karbon monoksidanya. Gas air mengandung proporsi hidrogen yang lebih sedikit daripada gas sintesis yang diproduksi dari metana atau hidrokarbon yang lebih tinggi. Gas air dapat bereaksi lebih lanjut, seperti dalam reaksi geser, menghasilkan hidrogen dan karbon dikosida tambahan. Begitu campuran CO dan H2 disiapkan dengan perbandingan yang benar, maka reaksi reformasi yang baru saja dijelaskan ini dapat dibalik untuk membuat metana yang digunakan sebagai bahan bakar; proses keseluruhannya disebut gasifikasi batu bara.[16]
4.      Pembuatan Hidrogen dari  Reaksi Logam dan Asam Kuat Encer
Hidrogen dalam jumlah kecil dapat dibuat di laboratotium denga mereaksikan logam dengan asam kuat encer. Contohnya :[17]
Zn (s) + 2HCl (aq)  ZnCl2 (aq) + H2 (g)
F.    Manfaat hidrogen
1.      Dalam Kimia Organik
Hidrogen sering dipakai untuk reaksi hidrogenasi senyawa alkena atau alkuna untuk sintesis senyawa organik. Senyawa hidrida misalnya  MgH2.NaH, dan LiH sering dipakai untuk reagen pereduksi senyawa organik dan hal ini sering dipakai dalam proses sistesis senyawa organik misalnya untuk reduksi senyawa aldehid atau keton.
2.      Dibidang Industri
a.       Bahan Bakar Fosil
Bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakkan pengembangan industi menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau peat untuk panas.
Ketika mengahasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil seringkali digunakan untuk menggerakkan turbin. Genarator tua seringkali menggunakan uap yang dihasilkan dari pembakaran untuk memutar turbin, tetapi di pembangkit listrik baru gas pembakaran  digunakan untuk memutar turbin gas secara langsung.
Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari karbon dioksida yang merupakan salah satugas rumah kaca yang  dipercayai menyebabakan pemanasn global.
Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena itu tidak menambah karbon dioksida di udara
b.      Industri Pupuk
Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen ditenmukan oleh Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman, sedangkan proses industri  pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh Carl Bosch, seorang insinyur kimia  juga dari Jerman. Persamaan termokimia reaksi sintesis amonia adalah:[18]

N2(g)    +  3H2(g)      2NH3(g)
 = -92,4 Kj  pada 25 0C: Kp = 6,2  105
3.      Meningkatkan Kejenuhan Minyak
Lemak trans terbentuk dari penambahan hidrogen pada minyak nabati melalui proses hidrogeansi parsial. Normalnya minyak nabati bentuknya cair dan memiliki ikatan rantai asam lemak yang tidak jenuh.
Melalui proses hidrogenasi dengan penambahan ion hidrogen , ikatan asam lemak yang awalnay tidak jenuh akan menjadi jenuh sehinnga membuat minyak nabati semakin padat sehinnga tidak mudah rusak. Contohnya dalam proses pembuatan margarin , namun perubahan cair menjadi lemak padat akan mengubah lemak nabati yang tadinya tak jenuh menjadi lemak trans.makanan yang diolah dengan minyak nabati yang terhidrogenasi akan tahan lama, teksturnya lebih baik, lebih renyah, dan gurih serta tidak terlalu terasa minyaknya.
4.      Hidrodealkilasi
Hidrodealkilasi toluena adalah proses yang digunakan untuk mengahasilkan benzena , reaksi utama dalam proses ini adalah:
C6H5CH3(g)    +   H2(g)    C6H6(g)  +CH4(g)
Reaksi hidrodealkilasi toleuna adalah reaksi gas-gas dengan katalis padat.dimana toluena, hidrogen, benzena, dan metana berada dalam fase gas, toluena dan hidrogen dikonversi dalam reaktor dengan katalis untuk memproduksi benzena  dan metana.


BAB III
KESIMPULAN

Pada tahun 1766, Henry Cavendish adalah orang yang pertama mengenali gas hidrogen sebagai zat diskret dengan mengidentifikasikan gas tersebut dari reaksi logam-asam sebagai "udara yang mudah terbakar". Pada tahun 1781 dia lebih lanjut menemukan bahwa gas ini menghasilkan air ketika dibakar.
Dalam sistem periodik, hidrogen memiliki nomor atom satu dan terletak pada golongan 1A karena mempunyai 1 elektron. Tetapi kecendrungannya sama dengan VIIA, yaitu menerima 1 elektron, dan tidak seperti golongan 1A lainnya yang cendrung melepas 1 elektron. Hidrogen yang terdapat di alam ada tiga isotop, yaitu  (hidrogen)  (D= deuterium) dan  ( T= tritium) dengan perbandingan:
 H : D : T = 10.000.000 : 2.000 : 1
Senyawa hidrogen sering disebut sebagai hidrida, sebuah istilah yang tidak mengikat. Oleh kimiawan, istilah "hidrida" biasanya memiliki arti atom H yang mendapat sifat anion, ditandai dengan H. Berdasarkan klasifikasikan sesuai dengan posisi unsurnya dalam tabel periodik, dan oleh karakter ikatannya, senyawa hidrida dikelompokkan menjadi hidrida salin, hiderida molekular, hidrida molekular, dan kompleks hidrida.
Untuk memperoleh gas hidrogen kita harus melakukan pemisahan hidrogen dari senyawanya.  Terdapat beberapa metode dalam pembuatan gas hidrogen.  Namun, pada dasarnya prinsip dari metode tersebut sama, yaitu memisahkan hidrogen dari unsur lain dalam senyawanya.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, parameter yang dapat diterapkan dalam pemilihan metode adalah biaya, emisi yang dihasilkan, skala produksi dan bahan baku. Metode-metode tersebut antara lain: Elektrolisis air, Steam Reforming¸ gasifikasi batu bara, dan reaksi logam dengan asam kuat encer.
Hidrogen yang diperoleh dari metode-metode tersebut memiliki banyak kegunaan antara lain dalam reaksi hidrogenasi senyawa alkena atau alkuna untuk sintesis senyawa organik, industri pupuk, bahan bakar fosil, meningkatkan kejenuhan minyak, dan hidrodealkilasi toluena.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  “Hidrogen,” http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen. (akses pada 18 September  2012 pukul 9:15)
Cotton , F. Albert dan Goeffrey Wilkinson. 2007. Basic Inorganic Chemistry, terj. Sahati Suharto. Jakarta: UI-Press.
Harris,D. 2008. Ensiklopedi Unsur-Unsur Kimia. Jakarta:Kawan Pustaka.
Keenan,Charles W.,dkk. 1984. Ilmu Kimia Untuk Universitas, Edisi Keenam, JIlid I; Jakarta: Erlangga.
Kuswati, Tine Maria. 2007. Sains Kimia 3 SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Bumi Aksara.
Oxtoby,David W,dkk. 2003. Principles Of Modern Chemistry, Fourth Edition , terj.Suminar Setiati Achmadi.  Jilid II; Jakarta: Erlangga.
Purba,Michael. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jilid II; Jakarta:Erlangga.
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 3. Bandung:Penerbit ITB
Saito,Taro. 1996. Inorganic Chemistry,terj.Ismunandar. Diunduh dari Http://oke.or.id